Tuesday , 2 September 2014
update
You are here: Home » Nasional » Pelaksanaan Kurikulum 2013 – Guru dan Murid Masih Kaget
Pelaksanaan Kurikulum 2013 – Guru dan Murid Masih Kaget

Pelaksanaan Kurikulum 2013 – Guru dan Murid Masih Kaget

Pelaksanaan Kurikulum 2013

Guru dan Murid Masih Kaget

cendana-1-(5) bedagas-(3) cendana-1-(1)

Purbalingga ASPIRASI – Penerapan kurikulum­­ 2013, selain untuk memberi jawaban terhadap beberapa permasalahan yang melekat pa­da kurikulum 2006 atau lebih dikenal Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006. Kurikulum yang baru ini bertujuan ju­ga untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang di­ per­oleh atau diketahui setelah siswa menerima materi pembelajaran.

Seperti diketahui, Di Purbalingga sendiri dari 466 SD, baru ada tiga SD sebagai sekolah piloting yang menyelenggarakan kurikulum 2013 yakni SDN 1 Bedagas, SDN 1 Cendana dan SDN 1 Kembaran Kulon.

Penerapan Kurikulum 2013 di sejumlah sekolah piloting kembali menuai keluhan. Jika sebelumnya kebanyakan keluhan berkaitan dengan masalah teknis, maka kali ini keluhan datang dari tenaga pengajar, tepatnya guru kelas I dan IV.

Dalam hal ini, pendidik mengeluhkan karakter siswa yang sebagian besar masih kesulitan beradaptasi dengan penerapan Kurikulum 2013. Guru Kelas I SDN Bedagas, Sudjarwi kepada ASPIRASI, (9/9) menuturkan, karakter anak didiknya saat di PAUD masih terbawa hingga kelas I saat ini. Hal tersebut menimbulkan kesulitan tersendiri pada guru untuk melaksanakan pembelajaran kurikulum baru. Siswa pada penerapan Kurikulum 2013 diharuskan lebih aktif dan mandiri. penerapan kurikulum 2013 ditekankan pada nilai-nilai yang berbasis tematik. Sehingga materi-materi yang diajarkan disesuaikan dengan tema yang ada.

“Mereka kebanyakan masih belum dapat mandiri sepenuhnya, padahal adaptasi siswa dengan hal yang baru membutuhkan waktu”ungkapnya.

Berbeda dengan kurikulum lama lanjutnya, yang tidak berbasis tematik, ada materi khusus mengenai baca tulis, sehingga perkembangan anak dalam hal baca tulis dapat terlihat jelas. Saat ini materi itu tidak ada.

“Untuk kurikulum 2013 sendiri, materi baca tulis tidak diajarkan secara khusus, karena materi yang diajarkan disesuaikan dengan tema. Namun demikian, tetap ada meteri yang berkaitan dengan dasar-dasar seperti baca tulis,”tegasnya.

Menurut Sudjarwi, Kendalanya mungkin sama yang dihadapi oleh para guru disekolah piloting lainya, siswa kelas I masih belum lancar membaca dan solusinya kita juga harus mengajari belajar membaca dan sampai sekarangpun mereka belum dapat membedakan tema dalam setiap pembelajaran. Misalnya, jika sekarang mereka mengerti setelah dijelaskan, mereka akan kembali kebingungan pada hari selanjutnya.

Menurut Kepala SDN I Bedagas Taryono, Melalui Kurikulum 2013 ini diharapkan dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, dan inovatif, melalui penguatan sikap (tahu mengapa), keterampilan (tahu bagaimana), dan pengetahuan (tahu apa) yang terintegrasi. Sehingga penilaianpun tidak lagi menggunakan angka melainkan dengan uraian tulisan.

“Sebenarnya banyak hal yang harus disiapkan untuk implementasi Kurikulum 2013 ini, Tapi ada dua hal yang krusial, yaitu masalah guru dan buku,”tegasnya.

Persoalan guru dapat dirasakan krusial lanjutnya, Yakni apabila guru tidak siap mengimplementasikan kurikulum baru, maka kurikulum sebaik apa pun tidak akan membawa perubahan apa pun pada dunia pendidikan nasional. Sedangkan buku itu vital karena menjadi pegangan murid untuk belajar.

“Bagaimana mungkin guru dan murid dapat mengajarkan serta mempelajari apa yang dimaui oleh kurikulum baru apabila mereka kaget dan belum bisa beradaptasi,”tandasnya.

Masalah pelatihan sambung Taryono, Cenderung kurang matang dan tempat pelatihan terlalu jauh. Pelatihan guru juga harus dicermati prosesnya maupun prakteknya karena menerapkan tematik integratif tidaklah mudah.

“Tempatnya jangan terlalu jauh dari domisili sekolah asal, para guru yang ikut pelatihan pasti akan senang, ungkapnya.

Kondisi yang sama dialami oleh guru Kelas IV SDN Cendana Anjar Sosiadi.Dikatakannya, kendala datang pada implementasi Kurikulum 2013 ketika siswa tidak memiliki sifat kemandirian penuh.Maka mereka akan mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Karena seperti diketahui bahwa dalam penerapan kurikulum baru ini mengharuskan siswa lebih kreatif dan inisiatif.

“Guru sebenarnya dalam hal ini harusnya memiliki kedudukan sebagai pendamping,” ujarnya.

Anjar menjabarkan, Dalam satu tahun pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 terdapat sembilan tema pembelajaran yang harus disampaikan kepada siswa, yang terbagi menjadi 2 semester.Untuk semester pertama terdapat 5 tema dan semester kedua 4 tema. Satu tema terdapat dalam satu buku pegangan siswa yang dibagi lagi menjadi 3-4 sub tema, satu subtema terdapat enam pembelajaran.

“Jadi guru melaksanakan pembelajaran satu subtema selama enam hari,”ungkap Anjar.

Kendala lain dihadapi oleh Bakhtiar Syarifudin, Guru Pendidikan Jasmani Olahraga Kesehatan (PJOK) SDN 1 Cendana.Diungkapkannya, penjadwalan pembelajaran PJOK belum sinkron dengan tema-tema didalam buku.

“Saya masih terus melakukan konsolidasi, dengan mensiasati menggunakan penjadwalan yang lama, karena terkendala jumlah waktu pembelajaran,”katanya.

Bakhtiar juga menyayangkan, Proses penilaian dalam kurikulum 2013 ini diutamakan dengan urutan sikap, ketrampilan, pengetahuan. Sangat lain dengan kurikulum lama yang menempatkan pengetahuan di urutan pertama.

Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Purbalingga, Sardjono mengatakan, Dalam kurikulum 2013 ini, pendidikan nilai atau karakter lebih ditekankan untuk membentuk pola pikir siswa. Disamping itu guru juga diharapkan dapat menanamkan empat pilar kebangsaan kepada para siswa, melalui materi-materi yang disampaikan.

“Progresnya pasti ada, hanya saja memang terkesan lambat. Namun pada akhirnya nanti semua siswa akan menguasainya dengan sendirinya, karena ini masih dalam proses,” tegasnya.

“Jadi nanti siswa akan memahami materi secara holistik, bukan lagi secara parsial seperti kurikulum sebelumnya,” jelasnya.

Sardjono mengatakan saat ini pihaknya masih terus mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum 2013 pada sekolah-sekolah non piloting tahun ajaran berikutnya. Diantaranya dengan membuka akses mengenai penerapan kurikulum 2013 kepada UPT-UPT maupun gugus-gugus sekolah.

“Saat ini 50 kepala SD sedang mengikuti pelatihan kurikulum 2013 di Solo. Nantinya akan dilakukan secara bergelombang, dan diharapkan pelaksanaannya dapat berjalan sesuai rencana,”pungkasnya

Incoming search terms:

  • keluhan siswa smp tentang kurikilum 2013
  • tema sd pjok k13
  • kesulitan kurikulum 2013 bagi siswa SMA
  • keluhan siswa tentang kurikulum 2013
  • hambatan yang dialami guru dalam mengimplementasikan kurikulum di kelas
  • persoalan mendasar yang dihadapi guru dalam penerapan kurikulum 2013
  • masalah yang dihadapi guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013
  • masalah yang dihadapi guru dalam implementasi kurikulum 2013
  • masalah yang di hadapi siswa sma dalam menyesuaikan diri dengan kurikulum 2013
  • masalah kurikulum 2013 di sd

2 komentar

  1. Kurikulum apapun yg akan ditrapkan, tentu butuh kompetensi paling mendasar terutama tuk jenjang sd/mi yaitu kompetensi baca tulis, sebab keduanya berperan vital. Kurikulum 2013 bisa jadi seperti ''api jauh dari panggang'' jika memakasakan peserta didik sd/,mi pemula/kelas 1 memahami tema, menalarnya, di sisi lain mereka belum bisa baca. Mungkinkah?

  2. kurikulum yang dulu aja gagal kok buat kurikulum baru yang semakin aneh….
    mbok yo di di sempurnakan saja kurikulum yang dulu2..
    ini malah ada lagi kurikulum baru, buku panduan kurikulm 2013 aja belum ada padahal ini sudah menginjak akhir 2014…ckckckckckc

Balas

Your email address will not be published. Harus diisi *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top